1. Defisiensi Genetik: Kesalahan “Cetak Biru”
Defisiensi genetik terjadi ketika terdapat mutasi pada urutan DNA yang mengodekan protein tertentu, terutama enzim. Dalam biokimia, ini sering disebut sebagai Inborn Errors of Metabolism.
- Mekanisme: DNA $\to$ mRNA $\to$ Protein. Jika DNA bermutasi, protein yang terbentuk bisa memiliki struktur tersier yang salah, sehingga situs aktifnya tidak berfungsi.
- Dampak Biokimia:
- Akumulasi Substrat: Karena enzim “A” tidak bekerja, substrat “X” menumpuk hingga mencapai kadar toksik.
- Defisiensi Produk: Sel tidak mendapatkan produk “Y” yang dibutuhkan untuk fungsi vital.
- Contoh Detil: Alkaptonuria. Mutasi genetik menyebabkan kekurangan enzim homogentisat 1,2-dioksigenase. Akibatnya, asam homogentisat menumpuk di jaringan ikat dan sendi, menyebabkan urin berwarna hitam dan radang sendi kronis.
2. Gangguan Nutrisi: Kelangkaan “Asisten” Enzim
Enzim sering kali tidak dapat bekerja sendirian. Mereka membutuhkan komponen non-protein untuk menjadi aktif sepenuhnya (Holoenzim).
- Kofaktor (Mineral): Ion logam seperti $Mg^{2+}$, $Fe^{2+}$, atau $Zn^{2+}$. Misalnya, magnesium sangat penting untuk semua enzim yang menggunakan ATP.
- Koenzim (Vitamin): Sebagian besar vitamin larut air (kompleks B) diubah menjadi koenzim.
- Vitamin B1 (Tiamin): Menjadi TPP untuk metabolisme karbohidrat.
- Vitamin C: Dibutuhkan untuk hidroksilasi prolin dalam pembentukan kolagen.
- Dampak Biokimia: Tanpa kofaktor/koenzim, enzim tetap menjadi Apoenzim (tidak aktif). Reaksi metabolisme melambat atau berhenti total.
- Contoh Detil: Penyakit Skorbut (Scurvy). Kekurangan Vitamin C menyebabkan enzim prolyl hydroxylase tidak aktif. Akibatnya, kolagen tidak bisa membentuk heliks yang kuat, menyebabkan pembuluh darah rapuh dan gusi berdarah.
3. Toksisitas: Sabotase dari Luar
Toksisitas terjadi ketika zat asing (Xenobiotik) masuk ke dalam tubuh dan mengganggu mesin kimia seluler.
- Inhibisi Enzim: Zat toksik sering bertindak sebagai inhibitor ireversibel.
- Logam Berat: Timbal ($Pb$) atau Merkuri ($Hg$) memiliki afinitas tinggi terhadap gugus sulfhidril ($-SH$) pada protein, yang secara permanen merusak struktur enzim tersebut.
- Gangguan Rantai Transpor Elektron: Zat kimia dapat menghentikan produksi energi (ATP).
- Contoh Detil: Keracunan Sianida ($CN^-$). Sianida berikatan sangat kuat dengan atom besi dalam enzim sitokrom c oksidase di mitokondria. Ini menghentikan aliran elektron ke oksigen. Sel tidak bisa lagi menghasilkan ATP melalui respirasi aerobik, menyebabkan kematian sel dalam hitungan menit.
4. Kegagalan Regulasi: Gangguan Sistem Komunikasi
Sel-sel dalam tubuh harus berkoordinasi. Kegagalan regulasi terjadi ketika sistem sinyal (hormon, neurotransmiter, atau reseptor) tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
- Masalah pada Reseptor: Jumlah reseptor berkurang (down-regulation) atau bentuknya berubah sehingga tidak bisa mengikat hormon.
- Masalah pada Jalur Transduksi Sinyal: Pesan sampai ke sel, tetapi “kabel” di dalam sel (seperti protein kinase) putus atau justru terus-menerus menyala tanpa kontrol.
- Dampak Biokimia: Homeostasis tidak terjaga karena sel tidak tahu kapan harus melakukan anabolisme atau katabolisme.
- Contoh Detil: Diabetes Mellitus Tipe 2. Ini adalah kasus klasik “Resistensi Insulin”. Insulin ada, tetapi jalur sinyal di dalam sel (terutama jalur PI3K-Akt) terganggu. Akibatnya, transporter glukosa (GLUT4) tidak berpindah ke membran sel, dan glukosa tetap tertahan di darah (hiperglikemia).
Ringkasan Tabel Patobiokimia
| Faktor | Fokus Utama | Contoh Dampak |
| Genetik | Struktur Enzim | Akumulasi racun internal (misal: PKU) |
| Nutrisi | Aktivitas Enzim | Kegagalan reaksi enzimatis (misal: Skorbut) |
| Toksisitas | Kerusakan Enzim | Penghentian energi (misal: Sianida) |
| Regulasi | Komunikasi Sel | Kekacauan metabolisme (misal: Diabetes) |
Penyakit jarang disebabkan oleh satu faktor saja; sering kali merupakan kombinasi rumit dari keempatnya.
