๐ฆ Mengapa Disebut “Parasit Intraseluler Obligat”?
Istilah ini terdiri dari tiga kata kunci yang mendefinisikan seluruh eksistensi virus:
- Parasit: Virus mengambil keuntungan dari inangnya dan merugikan inang tersebut dalam prosesnya.
- Intraseluler: Virus hanya dapat melakukan aktivitas biologis (replikasi) di dalam sel.
- Obligat: Virus mutlak atau wajib memerlukan sel inang. Tanpa sel inang, virus hanyalah kumpulan molekul kimia yang stabil namun pasif.
1. Ketiadaan Mesin Metabolik (Alasan Utama “Obligat”)
Alasan paling mendasar mengapa virus tidak bisa hidup mandiri adalah karena mereka tidak memiliki metabolisme.
- Tanpa Ribosom: Virus tidak memiliki organel untuk mensintesis protein. Mereka harus membajak ribosom sel inang untuk menerjemahkan mRNA mereka menjadi protein fungsional.
- Tanpa ATP: Virus tidak memiliki mitokondria atau jalur glikolisis untuk menghasilkan energi. Semua energi (ATP) yang digunakan untuk merakit partikel virus baru disediakan sepenuhnya oleh sel inang.
- Tanpa Homeostasis: Virus tidak dapat mengatur lingkungan internalnya sendiri. Mereka tidak tumbuh dalam ukuran atau membelah seperti bakteri; mereka “dirakit” dari komponen-komponen yang terpisah.
2. Struktur Virion: Paket Genetik yang Presisi
Di luar sel inang, virus disebut sebagai Virion. Virion adalah struktur yang sangat efisien yang dirancang hanya untuk satu tujuan: melindungi materi genetik dan mengantarkannya ke sel inang berikutnya.
A. Simetri Kapsid
Kapsid (mantel protein) memiliki dua jenis simetri utama yang dioptimalkan secara matematis:
- Ikozahedral: Memiliki 20 sisi segitiga sama sisi. Ini adalah bentuk yang paling efisien untuk membungkus ruang dengan unit protein yang berulang (contoh: Adenovirus).
- Heliks: Protein kapsid tersusun melingkar mengikuti alur spiral materi genetik (contoh: Virus Mosaik Tembakau atau Influenza).
B. Amplop (Envelope) vs. Virus Telanjang
- Virus Beramplop: Memiliki lapisan lipid yang diambil dari membran sel inang saat virus keluar melalui proses “budding” (tunas). Lipid ini membuatnya rentan terhadap sabun dan alkohol (contoh: HIV, SARS-CoV-2).
- Virus Telanjang (Non-enveloped): Hanya terdiri dari nukleokapsid. Mereka jauh lebih tahan terhadap kondisi lingkungan ekstrem (seperti asam lambung) karena tidak bergantung pada lapisan lipid yang rapuh (contoh: Norovirus).
3. Spesifisitas Inang dan Tropisme
Virus tidak bisa menginfeksi sembarang sel. Ini ditentukan oleh mekanisme “kunci dan gembok” molekuler yang sangat spesifik.
- Reseptor Seluler: Permukaan virus memiliki Spike Protein (ligan) yang harus berikatan dengan reseptor spesifik di permukaan sel inang.
- Contoh: Virus HIV hanya menginfeksi sel T-Helper manusia karena Spike proteinnya (gp120) hanya cocok dengan reseptor CD4.
- Tropisme Jaringan: Alasan mengapa virus flu menyerang saluran pernapasan dan bukan kulit adalah karena reseptor yang mereka butuhkan hanya diekspresikan secara melimpah pada sel-sel epitel pernapasan.
4. Keadaan “Antara” (The Edge of Life)
Secara rinci, para mikrobiolog membagi eksistensi virus menjadi dua fase:
- Fase Metabolik Inaktif (Ekstraseluler): Di luar sel, virus hanyalah partikel organik yang lembam. Mereka bisa dikristalkan (seperti benda mati) dan bisa bertahan dalam kondisi ini selama berhari-hari hingga bertahun-tahun (tergantung jenisnya).
- Fase Metabolik Aktif (Intraseluler): Begitu genom virus masuk ke dalam sel, virus “menjadi hidup”. Mereka mengambil alih kontrol seluler, mengarahkan enzim inang untuk mereplikasi DNA/RNA virus, dan merakit ribuan salinan baru.
5. Ukuran: Tantangan bagi Mikroskopi Cahaya
Virus rata-rata berukuran antara 20 hingga 300 nanometer (nm).
- Sebagai perbandingan, satu sel bakteri E. coli berukuran sekitar 2.000 nm (2 mikrometer).
- Karena ukurannya yang lebih kecil dari panjang gelombang cahaya tampak, virus tidak dapat dilihat dengan mikroskop cahaya biasa dan memerlukan Mikroskop Elektron (EM) untuk visualisasinya.
