Latar Belakang Penunjukan:
Herman Willem Daendels diangkat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda oleh Raja Louis Bonaparte (adik Napoleon Bonaparte) yang memerintah Kerajaan Belanda sebagai negara boneka Prancis. Pengangkatan ini terjadi dalam konteks Perang Napoleon, ketika Belanda dikuasai oleh Prancis. Tugas utama Daendels adalah mempertahankan Jawa dari ancaman invasi Inggris yang menguasai lautan.
Kebijakan dan Tindakan Penting:
1. Bidang Pertahanan dan Militer:
- Membangun jalan raya Anyer-Panarukan (sekitar 1000 km) yang dikenal sebagai Jalan Raya Pos (De Grote Postweg). Tujuannya untuk mempercepat pergerakan pasukan dan logistik melawan Inggris.
- Membangun benteng-benteng pertahanan baru dan memperkuat angkatan perang.
- Mendirikan pabrik senjata di Semarang dan Surabaya.
- Membentuk legiun Mangkunegaran dan mendukung pembentukan pasukan keraton.
2. Bidang Pemerintahan dan Administrasi:
- Memusatkan kekuasaan dengan sistem pemerintahan yang lebih langsung dan terpusat.
- Membagi Jawa menjadi 9 prefektur (setara dengan residen) untuk efisiensi administrasi.
- Mengurangi kekuasaan politik para bupati, mengubah mereka menjadi pegawai pemerintah dengan gaji tetap (sistem landrente mulai dirancang).
- Memindahkan pusat pemerintahan dari Batavia ke wilayah yang lebih sehat di Weltevreden (sekitar Lapangan Banteng sekarang).
3. Bidang Hukum dan Peradilan:
- Membentuk pengadilan untuk penduduk Eropa dan pribumi secara terpisah.
- Menerapkan Reglement op de Rechterlijke Organisatie (Peraturan Organisasi Peradilan) yang menjadi dasar sistem peradilan modern.
4. Bidang Ekonomi dan Keuangan:
- Menerapkan sistem monopoli dan penyerahan wajib (leverantie) yang ketat untuk mendanai pertahanan.
- Melakukan penjualan tanah pemerintah (termasuk sebagian pantai Jawa) kepada pihak swasta (kebanyakan orang Eropa dan Cina) untuk menutup defisit anggaran.
- Menerapkan berbagai pungutan dan pajak yang memberatkan rakyat.
5. Bidang Sosial dan Kemanusiaan:
- Kebijakannya terkenal keras dan otoriter, menggunakan sistem kerja paksa (rodi) secara besar-besaran untuk pembangunan infrastruktur, terutama Jalan Raya Pos. Ribuan pekerja pribumi meninggal karena kondisi kerja yang sangat buruk.
- Menghapus perdagangan budak untuk warga Eropa, tetapi perdagangan budak internal antarpribumi masih berlanjut.
Dampak dan Kontroversi:
- Positif: Pembangunan infrastruktur (terutama jalan) yang berguna untuk perekonomian kelak, reformasi administrasi modern, dan upaya pertahanan yang membuat Inggris tidak langsung menyerang Jawa.
- Negatif: Penderitaan rakyat akibat kerja paksa, kebijakan ekonomi yang eksploitatif, dan pemerintahan yang otoriter. Kebijakan penjualan tanah menyebabkan banyak pemilik tanah partikelir yang menindas petani.
- Reputasinya sering digambarkan sebagai tiran yang kejam dalam sejarah Indonesia, meskipun di Belanda ia kadang dilihat sebagai administrator yang efektif dalam situasi perang.
Akhir Masa Jabatan:
Daendels ditarik kembali ke Eropa pada tahun 1811 setelah dituduh melakukan penyalahgunaan kekuasaan dan kekejaman. Penggantinya, Jan Willem Janssens, tidak mampu menghadapi invasi Inggris yang dipimpin Lord Minto dan Thomas Stamford Raffles. Jawa akhirnya jatuh ke tangan Inggris pada tahun 1811, mengakhiri periode pemerintahan Prancis/Belanda yang singkat.
Warisan:
- Jalan Raya Pos menjadi infrastruktur vital yang menghubungkan Jawa hingga kini.
- Reformasi birokrasinya memberikan kerangka administrasi modern.
- Namanya dikenang dalam cerita rakyat dan sejarah Indonesia sebagai simbol penindasan kolonial, terutama melalui karya sastra seperti Max Havelaar (Multatuli) yang mengkritik sistem kerja paksa warisan Daendels.
Daendels adalah figur kompleks: seorang revolusioner Belanda yang pro-Prancis, administrator militer yang tegas, tetapi juga seorang pemimpin kolonial yang kebijakannya mengakibatkan penderitaan besar bagi rakyat Jawa. Masa pemerintahannya mencerminkan transisi dari sistem VOC menuju pemerintahan kolonial negara yang lebih terpusat dan modern, namun dengan metode yang represif.
