1. Struktur Organisasi dan Tata Kelola Global
VOC adalah pelopor kapitalisme modern. Mereka adalah perusahaan pertama di dunia yang mengeluarkan saham dan obligasi kepada publik.
A. Heeren XVII (Tuan-Tuan Tujuh Belas)
Di Belanda, VOC dikendalikan oleh dewan direksi yang disebut Heeren XVII. Mereka terdiri dari 17 orang perwakilan dari 6 cabang (Kamers) di kota-kota pelabuhan Belanda (seperti Amsterdam dan Middelburg). Mereka yang menentukan kebijakan besar, namun karena jarak yang jauh (pelayaran memakan waktu 6-8 bulan), kendali operasional diserahkan penuh kepada otoritas di Nusantara.
B. Gubernur Jenderal dan Dewan Hindia (Raad van Indie)
Untuk memimpin di wilayah jajahan, diciptakan jabatan Gubernur Jenderal. Jabatan ini memegang kekuasaan eksekutif, legislatif, dan militer tertinggi di Asia. Dalam menjalankan tugasnya, ia didampingi oleh Dewan Hindia yang berfungsi sebagai penasihat sekaligus pengawas.
⚔️ 2. Arsitek Kekuasaan: Jan Pieterszoon Coen
Jika ada satu tokoh yang paling bertanggung jawab atas fondasi kolonialisme Belanda di Indonesia, ia adalah J.P. Coen. Ia memiliki visi “monopoli mutlak atau tidak sama sekali”.
- Pembangunan Batavia (1619): Coen menghancurkan Jayakarta dan membangun Batavia di atas reruntuhannya. Batavia dirancang menjadi “Amsterdam di Timur” dengan kanal-kanal dan benteng besar (Kasteel Batavia) sebagai gudang sekaligus markas militer.
- Tragedi Kepulauan Banda (1621): Demi menguasai pala, Coen memimpin ekspedisi militer untuk menghabisi penduduk asli Banda yang mencoba berdagang dengan Inggris. Ribuan orang dibunuh, diusir, atau dijadikan budak, lalu digantikan oleh “Perkeniers” (petani Belanda). Ini adalah salah satu titik paling kelam dalam sejarah ekonomi dunia.
💰 3. Mekanisme Eksploitasi: Ekonomi Perkebunan dan Pajak
VOC mengembangkan sistem ekonomi yang sangat menindas untuk memastikan keuntungan 100%.
A. Preangerstelsel (Sistem Priangan)
Dimulai di Jawa Barat pada awal abad ke-18, sistem ini mewajibkan rakyat menanam kopi. Kopi merupakan komoditas yang sangat laku di Eropa. Rakyat dipaksa menanam dan menyerahkannya kepada VOC melalui perantara penguasa lokal (Bupati) dengan harga yang sangat rendah.
B. Birokrasi dan Upeti lokal
VOC tidak memerintah rakyat jelata secara langsung. Mereka menggunakan sistem feodal yang sudah ada. VOC menekan para raja dan bupati, dan para penguasa lokal inilah yang menekan rakyatnya untuk memenuhi kuota VOC. Sebagai imbalannya, VOC menjamin posisi kekuasaan para bupati tersebut.
🎭 4. Kehidupan Sosial di Kota VOC
Batavia berkembang menjadi kota kosmopolitan yang sangat tersegregasi (terkotak-kotak).
- Stratifikasi Sosial: Di puncak piramida adalah orang Eropa (pejabat VOC). Di bawahnya adalah orang “Mardijkers” (budak yang dibebaskan) dan kaum peranakan (Mestizo). Di lapisan luar adalah orang Tionghoa yang memegang peran ekonomi penting, dan terakhir adalah penduduk pribumi yang sering kali hanya dianggap sebagai tenaga kerja.
- Masalah Sanitasi: Kanal-kanal yang dibangun Belanda di Batavia ternyata tidak cocok dengan iklim tropis. Air menjadi mandek, menjadi sarang penyakit seperti malaria dan tipus, sehingga Batavia sempat dijuluki sebagai “Makam orang Eropa” (Het Kerkhof des Europeanen).
🥀 5. Anatomi Keruntuhan: Mengapa Raksasa Ini Tumbang?
Meskipun terlihat perkasa, VOC keropos dari dalam.
- Sistem Gaji Rendah: Pegawai VOC digaji sangat rendah, namun mereka memegang kekuasaan besar. Hal ini memicu budaya korupsi yang sistemik. Pejabat VOC melakukan perdagangan gelap untuk memperkaya diri sendiri di luar pembukuan resmi perusahaan.
- Dividen Palsu: Heeren XVII sering kali tetap membagikan keuntungan (dividen) kepada pemegang saham di Belanda menggunakan hutang, hanya untuk menjaga kepercayaan pasar, padahal kas perusahaan sebenarnya kosong.
- Perlawanan Rakyat: Biaya untuk membiayai tentara bayaran guna memadamkan perlawanan (seperti di Banten, Mataram, dan Makassar) jauh lebih besar daripada keuntungan dagang yang didapat.
Tahukah Anda? Pada saat dibubarkan tahun 1799, VOC meninggalkan hutang sebesar 134,7 juta gulden, jumlah yang sangat fantastis pada masa itu.
Setelah VOC bubar pada 31 Desember 1799, wilayah Nusantara diambil alih oleh Pemerintah Belanda yang saat itu berada di bawah pengaruh Napoleon Bonaparte dari Prancis. Hal ini membawa kita ke babak baru: Masa Pemerintahan Daendels.
