1. Landasan Utama: Surplus Ekonomi
Untuk mengukur kesejahteraan, ekonom menggunakan dua alat ukur utama yang mencerminkan keuntungan yang didapat oleh pelaku pasar:
A. Surplus Konsumen (SK)
Adalah selisih antara jumlah maksimum yang bersedia dibayar oleh konsumen untuk suatu barang dengan jumlah yang sebenarnya mereka bayar.
- Rumus Sederhana: $SK = \text{Willingness to Pay} – \text{Harga Pasar}$.
- Jika Anda bersedia membayar Rp100.000 untuk sepasang sepatu tetapi harganya hanya Rp70.000, maka surplus Anda adalah Rp30.000.
B. Surplus Produsen (SP)
Adalah selisih antara harga yang diterima penjual dengan biaya produksi yang mereka keluarkan.
- Rumus Sederhana: $SP = \text{Harga Pasar} – \text{Biaya Produksi}$.
- Jika seorang petani menjual beras seharga Rp15.000/kg padahal biaya produksinya hanya Rp10.000/kg, maka surplus petani tersebut adalah Rp5.000.
2. Efisiensi Alokatif
Suatu pasar dikatakan mencapai Efisiensi Alokatif ketika Surplus Total (SK + SP) mencapai titik maksimum. Titik ini terjadi tepat pada keseimbangan pasar bebas.
Pada titik keseimbangan:
- Barang dikonsumsi oleh pembeli yang paling menghargainya.
- Barang diproduksi oleh penjual dengan biaya terendah.
- Tidak ada lagi transaksi yang dapat meningkatkan kesejahteraan seseorang tanpa merugikan orang lain (Efisiensi Pareto).
3. Teorema Fundamental Ekonomi Kesejahteraan
Ada dua teori besar dalam bidang ini:
- Teorema Pertama: Pasar persaingan sempurna akan menghasilkan alokasi sumber daya yang efisien secara Pareto (pasar bekerja sangat baik jika dibiarkan sendiri tanpa gangguan).
- Teorema Kedua: Alokasi efisien Pareto mana pun dapat dicapai melalui mekanisme pasar, asalkan dilakukan redistribusi kekayaan di awal secara tepat. Artinya, pemerintah bisa membantu keadilan tanpa merusak efisiensi pasar.
4. Gangguan terhadap Kesejahteraan: Deadweight Loss (DWL)
Kesejahteraan akan berkurang jika pasar tidak berada pada titik keseimbangan. Pengurangan surplus total ini disebut Beban Baku yang Hilang (Deadweight Loss).
Penyebab utama DWL:
- Pajak: Menaikkan harga bagi pembeli dan menurunkan harga yang diterima penjual, sehingga volume transaksi berkurang di bawah tingkat optimal.
- Monopoli: Produsen sengaja membatasi jumlah barang agar bisa menaikkan harga, sehingga ada calon pembeli yang kehilangan kesempatan konsumsi.
- Kontrol Harga: Penetapan harga plafon (maksimum) atau harga dasar (minimum) oleh pemerintah.
5. Keadilan vs Efisiensi (Equity vs Efficiency)
Sering kali terjadi pertentangan antara efisiensi (ukuran kue ekonomi) dan keadilan (bagaimana kue itu dipotong).
- Pasar mungkin sangat efisien tetapi menghasilkan ketimpangan yang tinggi.
- Kebijakan pemerintah (seperti pajak progresif) bertujuan meningkatkan keadilan, namun sering kali mengurangi efisiensi karena menciptakan DWL.
