SD & SLTPSekolah MenengahPerguruan TinggiPendidikan Network IndonesiaTeknologi & PendidikanSains & TeknologiMajalah Teknologi IndonesiaPenelitian Indonesia
 Home & Jaringan Kita
 Berita Pendidikan
 Sekolah & Lembaga
 Menganai Kami
 Inovasi Pendidikan Baru
  
Inovasi Pendidikan

  
 Pendidikan Penerbangan
  
Pendidikan Penerbangan

  
 Link-Link Khusus
  



Aspirasi Pendidikan Kita
Aspirasi Kita


Seks Bebas Sebenarnya?

  
 E-Mail Pendidikan Gratis
  

Nama:
Panggilan:

Nama@Pendidikan.zzn.com

Login:
Password:

Nama@Pendidikan.zzn.com

  
 100 Kunjungan Terakhir
  


  
 Login
  
Login:
Pass:
Register?
  

Perpustakaan Sekolah dan Perpustakaan Lingkungan
Apakah ini seperti perpustakaan anda?

Pada tahun 1998-2000 kami melaksanakan penelitian untuk meningkatkan mutu peran teknologi dalam pelajaran bahasa di Sekolah Menengah Umum. Kami mengujungi ratusan sekolah di pulau Jawa, Bali, dan Lombok. Salah satu hal yang sangat terkait dengan pengembangan teknologi dan bahasa adalah fasilitas dan sumber bahan bahasa yang ada di perpustakaan sekolah. Apakah perpustakaan sekolah anda seperti perpustakaan di foto?

Dari penelitian kami delapan faktor muncul yang sangat mengagetkan:




  1. Biasanya tidak ada siswa-siswi di dalam perpustakaan.
  2. Perpustakaannya hanya buka pada jam kelas (paling tambah 15 minet).
  3. Guru-guru tidak secara rutin menyuruh siswa-siswi dalam jam kelas ke perpustakaan untuk tugas, mencari informasi atau solusi sendiri.
  4. Jelas, guru-guru tidak dapat minta siswa-siswi mencari informasi di perpustakaan di luar jam kelas karena perpustakaannya tidak buka.
  5. Guru-guru sendiri jarang kunjungi perpustakaan, dan kurang tahu isinya.
  6. Seringkali pengelola perpustakaan adalah guru yang juga jarang ada di perpustakaan.
  7. Pada umum, pengelola perpustakaan kelihatannya tidak mempromosikan perpustakaannya (atau berjuang untuk meningkatkan minat baca) secara aktif dan kreatif.
  8. Lingkungan sekolah (termasuk rakyat) kurang aktif membangunkan perpustakaan.

Sebenarnya Perpustakaan Sekolah Begini Hanya Sebagai "Gudang Buku" !

Kebiasaan ini belum merubah di kebanyakan sekolah sampai sekarang.

Padahal Perpustakaan Seharusnya Sebagai "Jantung Sekolah
".
Banyak siswa-siswi belajar dalam keadaan sulit di rumah, karena tempatnya sempit, ada adik-adik yang suka menggangu, mereka sering harus belajar di meja makan sesuai dengan waktu tidak dipakai, mereka tidak dapat belajar bersama teman-teman sekelas, dll.

Mengapa perpustakaan sekolah tidak buka satu sampai dua jam setelah jam kelas? Misalnya tutup jam 3 atau 3.30. Dari pengalaman kami alasan-alasan yang muncul adalah banyak! Masalah yang disebut termasuk; biaya karyawan, sekuriti, kendaraan untuk siswa, dll. Tetapi tidak ada alasan sebenarnya, dan untungannya untuk siswa-siswi kalau buka adalah banyak!

Perpustakaan juga sangat cocok untuk sebagai tempat di mana siswa-siswi dapat mengakses sumber-sumber informasi di Internet di luar jam kelas karena di awasi (melindungi siswa-siswi dari situs, kekerasan, porno, dll), dan siswa-siswi dapat dibantu oleh pustakawan/wati tanpa kebutuhan staf khusus.

Sering perpustakaan diurus oleh karyawan Tata Usaha (TU). Kita hanya perlu salah satu staf TU yang masuk 2 jam lebih siang dan pulang 2 jam lebih sore, tidak kena biaya. Kalau ada staf perpustakaan yang khusus - dibuat shift saja. Seringkali masuk lebih siang dan pulang lebih sore adalah keadaan yang cocok untuk anggota staf tertentu.

Yang kami melihat, di kebanyaan sekolah staf sekuriti sudah bertugas sampai sore. Kalau tidak, sistem shift juga dapat dilakukan.

Kalau masalahnya ada kendaraan, ini dapat dinegosiasi oleh staf sekolah. Biasanya bisnis dari siswa-siswi sekolah adalah sangat penting kepada perusahaan kendaraan, supir angkot, tukang becak, atau tukang ojek, dan mereka akan fleksibel.

Kami belum membahas hal "jumlah atau jenis koleksi buku", yang biasanya sangat kurang. Tetapi selama perpustakaan sekolah hanya sebagai "gudang buka" jumlah buku dan peraturan buku (Sistem/Katalog) tidak termasuk hal-hal utama.

Kita harus berjuang untuk mengatasi isu-isu (1-8 di atas yang tidak kena biaya) dan meningkatkan minat, kesempatan, dan kebiasaan baca. Kalau belum, perpustakaannya akan gagal sebagai jantung sekolah. Kebiasaan baca adalah kunci untuk mengembangkan pengetahuan dan pendidikan kita terus selama hidup (lifelong learning).

"Perpustakaan Online" tidak sebagai pilihan yang rialistik untuk mayoritas siswa-siswi tingkat sekolah (atau masyarakat) di Indonesia karena mereka tidak punya komputer atau akses ke Internet di rumah. Waktu untuk menggunakan komputer di sekolah adalah sangat terbatas, dan untuk "print" (cetak) dokumen-dokomen atau ebook dari Internet adalah sangat mahal dibanding dengan pinjam buku dari perpustakaan "yang gratis".

Buku-buku di perpustakaan sekolah dapat dipinjam dan dibaca kapan saja, di mana saja (di becak, di tempat tidur), dan buku-buku perpustakaan sekolah dapat "diakses oleh semua siswa-siswi secara adil". Ayo, membangun perpustakaan sekolah yang lengkap dengan akses di luar jam kelas.

Perpustakaan Nasional Indonesia menyatakan bahwa perpustakaan
harus menjadi "pusat belajar mengajar".

( Dalam Laporan Kami Bahasa Indonesia [1999] )

School Library Upgrade - Guidelines
( Laporan Singkat Kami Bahasa Inggris [1999] )


Perpustakaan Lingkungan

Beberapa bulan yang lalu kami membaca salah satu 'contoh aktivitas menulis' untuk ujian bahasa Inggris yang sebagai standar bahasa Inggris internasional: "Discuss the benefits and weaknesses of your local library" (Membahas keuntungan dan kekurangan perpustakaan lokal anda). Ujian ini disebut adalah 'bebas dari "bias" (pengaruh) kebudayaan'. Tetapi waktu kami mencoba bertanya beberapa orang Indonesia "Di mana perpustakaan lokal anda?" tidak ada satupun yang dapat menjawab. Perpustakaan Lokal (Lingkunan) atau "Community Libraries" kelihatannya tidak ada, atau kalau ada masyarakat secara umum tidak menggunakan perpustakaan-perpustakaan itu sampai tidak tahu di mana perpustakaannya.

Mengapa pertanyaan begini dapat muncul di ujian internasional?
Secara internasional perpustakaan lingkungan sebagai kebiasaan, termasuk di negara yang sedang berkembang. Kalau begitu, mengapa masyarakat tidak biasa menggunakan perpustakaan lingkungan di Indonesia. Mengapa perpustakaan lingkungan yang biasannya sebagai pusat untuk informasi lingkungan dan sumber pinjam buku-buku gratis tidak sebagai hal penting di Indonesia? Di mana masyarakat dapat pinjam buku-buku gratis, bagaimana mereka dapat terus meningkatkan pengetahuan dan pendidikannya?

Seperti perpustakaan sekolah, dan di luar negeri begitu, perpustakaan lokal dapat sebagai sumber akses ke Internet untuk masyarakat yang murah yang menyediakan bantuan karyawan yang sudah akli mencari informasi, di banding dengan warnet biasa di mana staf biasannya tidak berpendidikan tinggi atau memiliki keaklian mencari informasi.

Ide! Kalau semua anak (bersama orang tuanya) membeli sata buku saja mengenai sesuatu yang menarik, misalnya sains, elektronik, kimia, komputer, fotografi, Internet, kewirausahaan, pembangunan, olahraga, penerbangan, kejuruan apa saja, dan lain-lain, buku-buku ini dapat dikumpulkan di salah satu tempat (kalau tidak di sekolah) dan buku-buku ini dapat dipinjam gratis oleh semua siswa-siswi. Majalah, komik, surat kabar, dll juga dapat disimpan terus akhirnya kita dapat mempunyai koleksi sumber informasi yang sangat bermanfaat, namanya perpustakaan! Kita harus kreatif!


Perpustakaan Online

Seperti kami sudah menyebut di atas: 'Perpustakaan Online tidak sebagai pilihan yang rialistik untuk mayoritas siswa-siswi tingkat sekolah (atau masyarakat) di Indonesia karena mereka tidak punya komputer (Satu Komputer Untuk 2.000 Siswa - Tahun 2009) atau akses ke Internet di rumah. Waktu untuk menggunakan komputer di sekolah adalah sangat terbatas, dan untuk "print" (cetak) dokumen-dokomen atau ebook dari Internet adalah sangat mahal dibanding dengan pinjam buku dari perpustakaan "yang gratis".

Sekarang kita dapat belajar di manapun, di kota besar, di kota kecil, di desa, maupun di becak. Relatif kecil dan dapat masuk tas anda jadi dapat dibawa ke mana saja. Anda hanya perlu mempunyai niat belajar dan anda dapat belajar tanpa batas. Tidak perlu koneksi ke listrik dan battery dijaminkan selama hidup (katanya). Juga tidak kena ongkos layanan (Internet atau Hanfon). Tidak memakan pulsa jadi kalau anda tidur dan lupa mematikan alat revolusi pendidikan ini tidak akan kena ongkos. Alat ini juga dapat dipakai di seluruh dunia tanpa koneksi khusus. Alat revolusi ini dapat dibeli di toko dekat anda sekarang dan dapat digunakan secara langsung... dan dapat belajar sambil pulang!
Mobile Learning Untuk Semua......


Buku Sekolah Elektronik (BSE).
"Kebijakan buku elektonik (e-book) dinilai tidak efektif" (Forum Guru FGII)

Perpustakaan Online adalah lebih cocok untuk mahasiswa-mahasiswi supaya mereka dapat mencari dan pesan buku di perpustakaan kampus mereka (yang koleksi buku besar). Perpustakaan Online juga bagus untuk mahasiswa-mahasiswi yang melaksanakan penelitian dan mencari sumber dan "reference" secara luas di kampus-kampus lain, di perpustakaan tingkat nasional, atau di perpustakaan di luar negeri.

Anda dapat mengakses dan melihat beberapa perpustakaan online di:

Perpustakaan Digital UI Perpus Digital BATAN Digital Perpus Brawijaya
Perpus Pusat Unikom Perpus Online UGM ITS Library Digital
Perpus STIE MCE Lingkungan Hidup Teknik Industri ITB
UMS Digital Library Airlangga Library DigiLib AMPL
ITB Central Library Pendidikan NonFormal Perpustakaan DikNas

Senayan Open Source Library Management System
Senayan Open Source Library Management System


  1. Kalau kita melihat masalah-masalah perpustakaan sekolah (paling atas 1-8) kita harus tanya: Apakah "Senayan Library Management System" (program komputer), akan bermanfaat di tingkat sekolah?

    Kita belum membahas beberapa hal termasuk jumlah dan jenis buku, sistem manajemen buku (seperti di atas), dan "7.000 Sekolah Butuh Pustakawan" karena masalah-masalah perpustakaan sekolah utama adalah; Akses Siswa ke Perpustakaan, SDM, dan Sikap Staf terhadap perpustakaannya.

    Tanpa mengatasi hal-hal begini, "library mangement system" yang paling hebat di dunia, tidak akan begitu bermanfaat untuk sekolah maupun siswa-siswi, bukan?. Apa lagi di banyak sekolah yang punya sedikit buku.

  2. Pengelola perpustakaan sekolah harus berperan aktif untuk mempromosikan buku-buku kepada guru-guru dan siswa-siswi. Misalnya, membuat "Papan Informasi Khusus Perpustakaan" dekat pintu masuk sekolah di mana semua staf dan siswa-siswi setiap hari dapat melihat informasi perpustakaan yang sering di-update. Kami membuat papan informasi dari bahan bekas dan jumlah biayanya Rp.60.000 (dibuat oleh staf TU).

    Membuat "display" di perpustakaan yang sering diganti. Misalnya hasil karya siswa-siswi dapat dipajang di perpustakaan. Kalau guru-guru sedang mengajar menggunakan metode "tema", mencari dan pajangkan bahan-bahan yang releven. Berperan aktif untuk mencari buku-buku bekas dari lingkungan anda dan industri lokal. Misalnya kalau ada hotel yang dekat, mereka biasanya mengganti surat kabar setiap hari, dan daripada dibuang, surat kabar akan sangat baik untuk sumber informasi di sekolah.
    Ref (SD & SMP):

  3. Jelas, itu sangat penting bahwa semua sektor masyarakat (termasuk industri) perlu berjuang terus untuk melengkapi perpustakaan sekolah dan memperbaiki keadan dan kebiasaan di perpustakaan sekolah. Mengapa industri? Karena siswa-siswi yang di sekolah sekarang akan menjadi karyawan di kantor mereka nanti, dan pengetahuan karyawan mereka akan sangat mempengaruhi pengembangan bisnis dan industri di Indonesia.

  4. [Catatan Personal]
    Untuk Orang Tua: Saya sering ditanya; "Bagaimana saya dapat meningkatkan minat baca anak-anak saya?" Pada umum, anak-anak kita belajar dari yang kita mencontohkan, bukan dari yang kita ngomong atau coba mengajar. Sebagai orang tua, cara yang terbaik menurut saya, adalah sering membaca buku-buku sendiri di depan anak-anak, dan juga sering menyampaikan saran mengenai informasi atau aspek-aspek buku yang menarik. Dari sini semoga kita dapat meningkatkan daya tarik mereka untuk membaca. Daripada membeli mainan atau baju untuk hari ulang tahunnya coba beli buku-buku. Kalau anak anda masih kecil, sering membaca cerita dari buku anak-anak untuk mereka. Kalau ceritanya menarik, mudah-mudahan nanti mereka juga berniat untuk membaca.

    Untuk Guru: Salah satu strategi untuk mengajak anak-anak membaca adalah, sering cerita mengenai buku-buku yang anda sudah membaca dari perpustakaan sekolah. Apakah, anda belum membaca buku-buku dari perpustakaan? Sebaiknya anda mulai! Dari proses ini mudah-mudahan kita dapat meningkatkan daya tarik siswa-siswi kita untuk membaca buku-buku yang ada di perpustakaan. Satu strategi lagi adalah memberi tugas (PR) di mana mereka perlu membaca dan mengevaluasi salah satu buku dari perpustakaan. Hasilnya mereka akan dipajang di perpustakaan, dan yang bagus akan dicatat di katalog perpustakaan untuk menginformasikan siswa-siswi lain. Kita wajib untuk menggunakan kreativitas kita untuk meningkatkan kebiasaan baca untuk siswa-siswi kita.
    Mengirim Strategi Anda! (jangan lupa informasi nama dan sekolah anda).

    Semoga sukses!

  5. Pendidikan Formal hanya sebagai awal pendidikan masyarakat. Untuk membangun masyarakat yang cerdas itu sangat penting bahwa mereka dapat mengakses informasi supaya "lifelong learning" dapat sebagai kenyataan. Kita sangat perlu membangun, atau meningkatkan fasilitas Perpustakaan Lingkungan (Lokal) dan mensosialisasikan keuntungan fasilitasnya dan kebiasaan membaca.

    Tidak perlu menunggu dana. Kita dapat mulai dengan satu ruang di Rumah Orang atau ruang di Kantor Kelurahan, Kantor Kecamatan, dll. Kita dapat mulai dengan buku-buku, majalah, surat kabar, komik, dll dari donator-donator dari linkungannya sendiri. Tidak ada publikasi yang tidak bermanfaat. Yang penting kita mulai!

Perpustakaan Lingkungan
Lagi Asyik Membaca!

Kalau menyediakan kopi, teh dan makanan kecil (oleh sistem donasi), perpustakaan lingkungan kita juga dapat menjadi tempat untuk rekriasi dan "sharing" membagi informasi-informasi lingkungannya secara non-formal. Di negara-negara lain fasilitas seperti ini disebut "Drop-In Centres" dan biasanya buka sampai malam, dan sangat bermanfaat untuk lingkungannya.



Salam Pendidikan

Phillip Rekdale
Draft: 29-12-2007
(Mengirim Saran Anda)

TEKNOLOGI PENDIDIKAN UPDATE 2010
[ Internet Membuang Waktu ] [ E-Learning Membunuh Kreativitas ] [ M-Learning Hanya Uji Coba ]
[ Rendahnya Akses Internet, E-Book Tak Efektif ]

[ Solusi = Teknologi Tepat Guna : Appropriate Technology ]